Dikutip dari buku “Mendesain Logo” karya Surianto Rustan
Melihat perjalanan sejarah, perkembangan kualitas logo sebenarnya mendapat tantangan yang makin besar. Teknologi selain mempermudah kehidupan, dilain pihak memicu pola pikir yang menyimpang terhadap desain grafis khususnya logo.
Teknologi mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh belahan dunia. Konsep bekerja on-line di rumah tanpa perlu ke kantor, yang dulunya tidak terbayangkan kini menjadi kenyataan.
Teknologi perangkat keras dan lunak komputer serta internet adalah kekuatan yang luar biasa. Dari fungsi awalnya sebagai mesin penghitung, komputer lalu dapat membuat dokumen menggantikan mesin tik, bisa juga untuk menggambar, membuat musik, menganalisa, mengatur, mengingatkan, menghibur.
Bergabung dengan teknologi internet, keduanya menciptakan fungsi-fungsi baru yang makin penting: komunikasi, bertukar informasi dan bertransaksi. Tidak ketinggalan fungsi sosial yang sedang trend akhir-akhir ini: berteman, menemukan sahabat lama, mencarikan jodoh dan masih banyak lagi.
“Komputer dan internet dapat melakukan segalanya”. Di bidang desain grafis, pemikiran seperti ini menjadi pemicu pemikiran-pemikiran lain seperti: “desain itu komputer”, “yang jago Photoshop pasti jago desain”, “menggunakan software Illustrator itu mudah = mendesain itu mudah”, “desain itu soal selera”, dan lain-lain.
Kita ketahui bahwa tahap mendesain itu dimulai dengan riset. Komputer adalah pengeksekusi ide-ide yang lebih dulu divisualkan secara manual. Bahwa desain tidak hanya sekedar visual/fisik semata, tapi juga mengandung berbagai atribut non-fisik seperti emosi, kepribadian, budaya, dan lain-lain. Bahwa desain itu ilmiah, ada prinsip-prinsip dan rumus-rumusnya (walaupun tidak bersifat kaku), bahwa tidak mungkin pekerjaan membuat identitas dilakukan tanpa tatap muka dan interaksi terus-menerus dengan entitasnya.